Rumah Sakit Mardi Waluyo Didemo Ratusan Tenaga Perawat dan Dokter

Rabu, 06 Agustus 2014 18:35 | Oleh : Fajar Agustyono | pewarta-indonesia.com
KOPI, BLITAR – Ratusan tenaga Perawat dan puluhan dokter yang tergabung dalam Forum Komunikasi Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Blitar, Jawa Timur, melakukan aksi demo di depan Kantor RS Mardi Waluyo, RAbu ( 6/8). Mereka tuntut pihak Manajemen Rumah Sakit transparan dan profesional.
Dalam aksinya meraka membawa berbagai macam sepanduk dan poster yang bertuliskan, Hidupkan Satuan Pengawas Internal, Humas Tidak Profesional Meresahkan Tidak Sesuai Tupoksi, Kami Tidak Mata Duitan Kami Butuh Transparansi Dan Keadilan, Kabid Keperawatan Rangkap Jabatan Tidak Fokus Fungsi Dan Tugasnya, Kabid Keperawatan Tumpul Keatas Tajam Ke Bawah dan masih banyak tulisan berupa kecaman terhadap manajemen RS. Mardi Waluyo milik Pemerintah Kota Blitar ini. Bahkan mereka melakukan aksi galang koin untuk disumbangkan ke pihak manajemen.
Dikatakan Mohamad Trianto, koordinator aksi, pengelolaan sistem keuangan dan manajemen RS. Mardi Waluyo dinilai amburadu. Pasalnya dalam program BPJS, Jamkesda, Jamkesmas dan pelayanan umum tidak transparan, hingga berdampak semua program untuk masyarakat miskin tersebut akan berjalan tidak sesuai seperti yang diharapkan.
Lebih lanjut dia mengatakan, ratusan tenaga Perawat dan puluhan dokter yang tergabung dalam Forum Komunikasi Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Blitar mengujukan tujuh tuntutan, yakni ; 1. Landasan hukum yang terkait pembagian jasa pelayanan dan biaya operasional BPJS, Jamkesda, Jamkesmas dan Umum. 2. Transparansi mengenai besarnya klaim tiap bulan dari BPJS, Jamkesda, Jamkesmas dan Umum. 3. Pemenuhan Sarana dan Prasarana Pelayanan. 4. Pemenuhan kecukupan tenaga/pegawai dengan jumlah pasien. 5. Profesionalisme fungsi humas. 6. Optimalisasi Kepala Bidang Keperawatan 7. Responsif terhadap permasalahan di ruangan.
“Bongkar adanya dugaan penyalahgunaan wewenang dan jabatan di Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Blitar. Diduga sistem pengelolaan keuangan dalam program BPJS, Jamkesda, dan pelayanan umum tidak transparan,” ungkap Trianto dalam orasinya.
Trianto juga juga mengingatkan, kalau tuntutan ratusan perawat dan puluhan dokter tidak ditindak lanjuti dalam waktu 1 kali 24 jam, pihaknya mengancam akan membongkar seluruh kasus penyimpangan yang terjadi di RS Mardi Waluyo.
“Ingat bila 7 ( tujuh ) tuntutan terkait transparasi di RSUD Mardi Waluyo ini tidak segera ditindaklanjuti, maka konsekwensinya masalah ini bakal melebar kemana-mana,” teriaknya di depan ratusan perawat dan puluhan dokter yang sedang menggelar aksi.
Hal senada juga disampaikan Mat Rahman, Ketua forum Komunikasi Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Blitar, yang sehariannya bekerja sebagai perawat ruang penyakit dalam.
Sementara itu Kabag Humas RS Mardi Waluyo, Didik Njunariadi, saat dikonformasi mengatakan, pihaknya belum bisa memutuskan terkait tuntutan para karyawannya, dengan alas an masih nunggu kepastian dari pimpinannya, yakni Direktur RS Mardi Waluyo, dr. Husein. Namun pihaknya akan menindak lanjuti tujuh tuntutan yang diajukan secara tertulis kepada direktur Rumah Sakit.
“Kami belum bisa memutuskan apa-apa, karena ini wewenang direktur. Tuntutan kawan-kawan akan kami sampaikan kepada pimpinan,” jelas Didik Njunariadi.
Semula aksi demo ratusan tenaga perawat dan puluhan dokter berlangsung di depan kantor RS Mardi Waluyo, namun selanjutnya para pendemo ditemui oleh bagian manajemen di Aula rumah sakit setempat. Karena para pendemo menghendaki bertemu dengan direktur rumah sakit, sementara pihak rumah sakit hanya diwakili oleh pimpinan manajemen. Hal tersebut membuat ratusan tenaga perawat dan puluhan dokter marah, hingga hamper terjadi kericuhan. Namun dengan adanya lobi yang dilakukan coordinator aksi, M. Trianto dan ketua Forum Komunikasi Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Blitar, Mat Rahman, telah disepakati tuntutan bisa diajukan secara tertulis.
Besuk Kamis ( 7/8) Forum Komunikasi Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Blitar, akan melayangkan Surat kepada Ketua DPRD Kota Blitar, terkait permasalahan tersebut dan menghendaki agar diakan dengar pendapat, dengan menghadirkan direktur RS Mardi Waluyo juga beberapa pihak terkait. (FJR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *