BERITA

M. Trianto : Kalau Hanya Gubuk, Kenapa Dihancurkan Pakai Alat Berat

Alat berat hancurkan Kampung Merah Putih

Blitar, Oposisi – Buntut dari pengrusakan dan pembakaran 36 rumah milik warga, Kampung Merah Putih Desa Soso Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar, Senin (23/11) kemarin, nampaknya kan menjadi masalah serius yang akan berkepanjangan. Pengrusakan dan pembakaran tersebut dilakukan olehsekelompok orang yang diduga oknum suruhan  PT. Kismo Handayani, pemegang HGU perkebunan Nyunyur yang sudah mati masa berlakunya.

Bahkan permasalahan ini sudah diadukan warga Kampung Merah Putih, korban pengruskan dan pembakaran ke Kejaksaan Negeri Blitar, Selasa (8/12). Pasalnya kasus ini, menurut Mohamad Trianto, pendamping warga, bukan semata hanya kasus kriminalisasi terhadap warga Kampung Merah Putih yang beberapa hari lalu rumahnya dirusak dan dibakar oleh sekelompok preman yang diduga suruhan PT. Kismo Handayani. Namun kasus ini ada dugaan kuat adanya tindak pidana Korupsi di Perkebunan yang Hak Guna Usaha (HGU) nya telah mati.

Sekedar diketahui , sebelumnya Selasa (1/12), mereka mengadukan permasalahan  tersebut ke Pemkab Blitar. Namun hingga kini pihak Pemkab Blitar, dinilai lamban dan tidak ada reaksi apa-apa terhadap ke 36 rumah milik warga yang dirusak dan dibakar.

Seperti dikatakan Mohamad Trianto, Ketua Komite Rakyat Pemberantas Korupsi (KRPK) saat mendapingi warga korban pengrusakan, kedatangan warga di Kejaksaan Negeri Blitar untuk mengadukan nasib para petani/warga, karena rumahnya dirusak dan dibakar orang, bahkan dengan menggunakan alat berat.

“ Cara-cara seperti itu sudah bukan jamannya lagi, mengusir orang dengan cara premanisme,” kata M. Trianto.

Lebih lanjut dia di depan Kepala Kejaksaan Negeri Blitar, Dade Ruskandar, SH. MH, menyerahkan dokumen terkait izin HGU di eks Perkebunan Nyunyur yang diduga telah mati sejak 31 Desember 2010 lalu.

” Sudah jelas-jelas, HGU nya mati dan tidak bisa diperpanjang, kenapa justru petani yang diusir dan rumahnya dirusak dan dibakar. Mereka kini, bersama keluarganya tinggl di tenda-tenda,” jelasnya.

Selain itu, dia juga menyerahkan dokumen HGU di perkebunan lainnya, yakni, Perkebunan Sengon, Kecamatan Wlingi, dan Pekebunan Kruwuk, Kecamatan Gandusari, yang Kedua perkebunan tersebut diduga HGU nya jga sudah mati sejak 2009 lalu. Namun menurutnya, fakta di lapangan ketiga perkebunan itu masih dikuasai oleh penguasa lama.

Add caption

Dalam kesempatan ini, Trianto, selain menyerahkan data HGU dari tiga perkebunan tersebut, juga mengadukan dugaan arogansi oleh sekelompok orang, yang dalam setahun ini, tiak bisa menikmati hasil. Pasal, tanaman seperti singkong, dan tebu yang ditanam warga, diambil paksa preman-preman yang diduga suruhan pemilik modal.

“ Para pentani dituduh menyerobot lahan perkebunan. Dituduh demikian, para petani tidak ada berani yang melawan, karena diintimidasi. Bahkan ada tiga petani yang diperkarakan dan divonis satu bulan dengan 3 bulan masa percobaan,” terangnya.

Sementara itu Dade Ruskandar, Kajari Blitar dalam menanggapi hal tersebut mengatakan, pihaknya akan menindaklanjutinya karena memang sudah menerima banyak pengaduhan terkait kasus sengketa lahan eks perkebunan tersebut.

” Menurut PP No 40 tahun 1996, kalau HGU-nya sudah mati, otomatis status lahan itu milik negara dengan sendirinya. Namun, kalau ada orang yang menguasai lahan milik Negara, itu sama halnya dengan korupsi,” jelas Kajari Blitar.

Orang nomor satu di Kejaksaan Negeri Blitar ini menambahkan, “ Aturan perpanjangan HGU itu, semestinya dilakukan dua tahun sebelum HGU tersebut mati/habis. Bukan sebaliknya, di saat HGU mati, baru mengurus,” pungkasnya.

Mendengar jawaban Kajari Blitar tersebut, M. Trianto bersam puluhan warga Kampung Merah Putih, korban pengrusakan, pembakaran dan intimidasi, merasai puas. Namun Mohamad Trianto merasa kecewa terhadap Kapolres Blitar, AKBP Muji Ediyanto, SH. SIK, terkait statemennya di media online detikcom, Kamis (13/12) lalu.

Dijelaskan Trianto, di detikcom Muji Ediyanto menyampaikan, bahwa rumah yang dirusak dan dibakar tersebut, bukan rumah, tapi gubuk yang tidak ditempati, bisa langsung dilihat di lokasi (kata Kapolres Blitar di detikcom. Red).

“ Jika hanya gubuk yang tidak ditempati, kenapa dihancurkan pakai alat berat. Lihat ini mas, foto saat kejadian kemarin, rumah permanen dirusak dengan alat berat. Ini sudah tindakan criminal mas. Dan perlu anda ketahui di Kampung Merah putih ada sekitar 10 rumah permanen dan puluhan semi permanen,” terang Trianto sambil menunjukan foto-foto rumah permanen yang saat dirusak dengan alat berat.

Atas kejadian tersebut, dalam waktu dekat pihaknya berencana akan melaporkan kasus ini ke Polda Jatim dan Mabes Polri. (jar)