BH & Celana Dalam Sebagai Kado Buat Kajari Baru Blitar

Senin, 02 Juni 2014 22:35 | Oleh : Fajar Agustyono | pewarta-indonesia.com

KOPI, BLITAR – Ratusan massa yang tergabung dalam Komite Rakyat Pemberantasan Korupsi (KRPK) mendatangi kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Blitar, Senin (2/6) siang, dengan berjalan kaki dari depan Taman Makam Pahlawan (TMP) hingga Kantor Kejaksaan Negeri Blitar, dengan membawa berbagai poster yang bertuliskan antara lain, Usut Korupsi Jatilengger Sampai Tuntas, Gila Dana Orang Miskin dan Orang Sakit Dikorupsi, Seret Pejabat Korupsi di Blitar.

Kedatangan massa sekitar 1000 orang di Kantor Kejari Blitar tersebut, selain memberikan data-data soal kasus dugaan korupsi di Lingkup Pemerintah Kabupaten Blitar, juga membawa kado buat Kajari yang baru, berupa Bantal, Celana Dalam (CD) perempuan, dan BH.

Saat Tiba di kantor kejaksaan, massa pendemo dihadang aparat Kepolisian Polres Blitar Kota di depan Pintu masuk, hingga massa aksi tak bisa masuk. Namun mereka tetap berorasi di luar pagar sambil membentangkan spanduk, dan mrnggantungkan CD, BH yang diikatkan pada pipa paralon.

Dikatakan Mohamad Triantor, Koordinator Aksi, terkait pergantian kajari yang baru, dari TR. Silalahi, SH ke Dade Ruskandar ,SH, pihaknya khawatir jangan-jangan Kajari baru akan mewarisi kinerja TR. Silalahi. Untuk menyindir dan mengingatkan Kajari baru, dia member kado bantal, CD, dan BH. Dimaksudkan, agar Kajari yang baru tak sampai mengikuti kinerja Kajari lama. Karena kajari yang baru tidak ada di tempat, maka bantal, CD dan BH tersebut dicantolkan di bawah logo Adiyaksa. Kemuadian bantalnya dibakar di depan pintu masuk Kantor Kejari Blitar.
” BH dan Celana Dalam wanita ini adalah kado yang teramat pantas bagi Kepala Kejaksaan Negeri Blitar. Semoga Kajari Blitar yang baru nanti tidak akan banci dan mandul dalam menegakkan supremasi hukum,” jelas Trianto saat menyerahkan setumpuk bukti dugaan korupsi di lingkup RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar.
Lebih lanjut Trianto menyampaikan, pihaknya menemukan bukti-bukti adanya dugaan korupsi seperti, Jamkesda, Jamkesmas, Jampersal dan dana taktis senilai sekitar Rp. 5 Milyar yang terjadi di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar pada tahun 2011, 2012, dan 2013.
” Gila..dana bantuan untuk orang miskin kok dikorupsi juga !!,” imbuh Ketua Umum RAtu Adil sambil membuka air mineralnya.

Dia menambahkan, selama ini kejaksaan tak serius menangani berbagai kasus korupsi. Seperti, kasus korupsi tukar guling aset pemkab (Jatilengger) dari dulu hingga kini, hanya menetapkan dua tersangkanya. Sementara, aktor intelektualnyasama sekali tak tersentuh. Padahal menurutnya, semua orang tahu siapa yang membuat kebijakan tersebut. Pihaknya minta kajari yang baru berani menyeret semua yang terlibat dalam kasus dugaan korupsi tanah Jatilengger.
” Bila dalam waktu dekat para elit pejabat eksekutif dan legislatif Pemkab Blitar yang terlibat dugaan korupsi Jatilengger yang akibatkan kerugian keuangan Negara senilai Rp 1,3 milyar tidak segera ditangkap dan ditahan, maka ribuan rakyat Blitar akan beramai-ramai mengganti papan tulisan ” KANTOR PENGACARA NEGARA” di kantor Kejaksaan Negeri Blitar dengan papan baru yang bertuliskan ” KANTOR PENGACARA KORUPTOR.” Tegas Trianto dalam orasinya ditengah tengah ratusan massa aksi yang memadati Kantor Kejaksaan Negeri Blitar tadi siang.

Sementara Kasi Pidsus Kejari Blitar, Yudi Istono,SH, menanggapi aspirasi dari massa KRPK, pihaknya berjanji akan lebih pro aktif terhadap penanganan kasus-kasus yang diungkapkan oleh massa pendemo.

“Seperti kasus Jatilenger, kami akan melakukan pengembangan lagi setelah menetapkan dua tersangkanya. Kami juga senang kalau kinerja kami ini dikontrol,” ungkap Yudi Istono

Sebelum mengakhiri aksinya, Trianto menyerahkan data data terkait dugaan pemotongan dana Jampersal, Jamkesmas, dan Jamkesda di RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, yang terjadi selama tahun 2011, 2012, dan 2013. Yang menurut Trianto pemotongan tersebut berkisar 3 hingga 5 persen. (FJR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *